ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Tanpa Batas 2017 - Beliau dijuluki “Singa Podium”. Sebuah julukan yang sangat beralasan demikian karena kefasihan kemampuan berorasi mampu mengobarkan semangat setiap orang yang mendengarnya. Pemuda yang bertubuh pendek, gemuk dengan bahu yang agak bungkuk ini lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 1 Juli 1916. Di usianya yang masih remaja, Isa Anshary telah terjun ke dunia politik. Di kota kelahirannya itu ia sudah menjadi kader PSII dan aktif sebagai mubaligh Muhammadiyah. Seperti halnya para pemuda lainnya, Isa Anshary merantau ke pulau Jawa dan menetap di kota Bandung. Di kota Kembang inilah ia bertemu dengan Soekarno.
Selain dikenal sebagai pemuda yang taat beragama, aktivitas
politiknya makin menggebu-gebu. Di usianya yang muda, ia telah memimpin
beberapa organisasi, yaitu Ketua Persatuan Muslimin Indonesia Bandung,
Pemimpin Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia Bandung, Sekretaris Partai
Islam Indonesia Bandung serta ikut mendirikan Muhammadiyah cabang
Bandung.
Dalam pergerakan itu, ia bergabung dengan kelompok pemuda yang disebut-sebut radikal, seperti M. Natsir. Aktivitasnya di Persis yang sempat dipimpinnya beberapa periode seakan-akan semakin tersemai subur. Ia juga menjadi anggota Indonesia Berparlemen, Sekretaris Umum Komite Pembela Islam dan pemimpin redaksi majalah Daulah Islamiyah.
Dalam pergerakan itu, ia bergabung dengan kelompok pemuda yang disebut-sebut radikal, seperti M. Natsir. Aktivitasnya di Persis yang sempat dipimpinnya beberapa periode seakan-akan semakin tersemai subur. Ia juga menjadi anggota Indonesia Berparlemen, Sekretaris Umum Komite Pembela Islam dan pemimpin redaksi majalah Daulah Islamiyah.
Satu hal yang mencolok dari tokoh yang pernah menjadi pembantu tetap
Pelita Andalas dan Perbincangan ini adalah sikapnya yang tegas. Ia
sering dinilai tidak bersikap kompromistis. Tidak mengherankan kalau
Herbert Feith menyebutnya dengan figur politisi fundamentalis yang
memiliki keyakinan teguh. Oleh karena itu, pada zaman Jepang, ia telah
mengomandoi gerakan Anti Fasis (Geraf), Biro Penerangan Pusat Tenaga
Rakyat (Putera) Priangan, memimpin Angkatan Muda Indonesia dan
mengorganisasi Majelis Islam yang membentuk kader-kader Islam.
KH. Muhammad Isa Anshary adalah salah satu pilar yang membangun Persis. Pada tahun 1935-1960 ia sempat menjadi ketua umumnya. Selama memimpin Persis, perannya sangat menonjol. Ia selalu memberikan arahan dan warna bagi organisasi itu. Pidatonya selalu bergelora membuat pandangan yang mendengarkan selalu tertuju kepadanya. Bukan sekali dua kali ia ditegur oleh aparat keamanan karena “garangnya” pidato yang ia sampaikan. Dalam hal tulis menulis analisisnya cukup tajam. Di antaranya hasil karyanya adalah Bahaya Merah Indonesia (1956), Barat dan Timur (1948), Islam Menentang Komunisme (1956), Tuntunan Puasa (1940), Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953), dan lain-lain.
KH. Muhammad Isa Anshary adalah salah satu pilar yang membangun Persis. Pada tahun 1935-1960 ia sempat menjadi ketua umumnya. Selama memimpin Persis, perannya sangat menonjol. Ia selalu memberikan arahan dan warna bagi organisasi itu. Pidatonya selalu bergelora membuat pandangan yang mendengarkan selalu tertuju kepadanya. Bukan sekali dua kali ia ditegur oleh aparat keamanan karena “garangnya” pidato yang ia sampaikan. Dalam hal tulis menulis analisisnya cukup tajam. Di antaranya hasil karyanya adalah Bahaya Merah Indonesia (1956), Barat dan Timur (1948), Islam Menentang Komunisme (1956), Tuntunan Puasa (1940), Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953), dan lain-lain.
Dalam kancah politik, Masyumi menjadi ladangnya. Bagi para ulama
kritis, berpolitik merupakan bagian tuntutan agama. Mereka selalu
meneriakkan kebenaran walaupun pahit dirasakan. Bagi mereka, berpolitik
adalah alat untuk mencapai cita-cita umat Islam. Di bawah bendera
Masyumi, ia semakin memperkuat posisinya sebagai politisi. Tahun 1949,
ia memimpin sebuah kongres Gerakan Muslimin Indonesia. Keterlibatan KH.
Muhammad Isa Anshary dalam pentas politik membuat dia harus menghadapi
resiko yang tidak kecil.
Ketika terjadi razia terhadap orang-orang yang diisukan ingin membunuh presiden dan wakil presiden pada bulan Agustus 1951 oleh PM Sukiman Wirdjosandjoyo, KH. Muhammad Isa Anshary ditangkap. Namun beberapa saat kemudian ia dilepaskan dan dinyatakan tidak bersalah. Sepak terjangnya di bidang politik sempat menyedot perhatian massa. Di mana ia memberikan pidato, pasti dipenuhi massa yang ingin mendengarkan suaranya. Biasanya massa yang hadir bukan hanya partisipan Masyumi, tapi juga masyarakat umum.
Ketika terjadi razia terhadap orang-orang yang diisukan ingin membunuh presiden dan wakil presiden pada bulan Agustus 1951 oleh PM Sukiman Wirdjosandjoyo, KH. Muhammad Isa Anshary ditangkap. Namun beberapa saat kemudian ia dilepaskan dan dinyatakan tidak bersalah. Sepak terjangnya di bidang politik sempat menyedot perhatian massa. Di mana ia memberikan pidato, pasti dipenuhi massa yang ingin mendengarkan suaranya. Biasanya massa yang hadir bukan hanya partisipan Masyumi, tapi juga masyarakat umum.
Pada masa Soekarno, Masyumi menjadi salah satu lawan politik
pemerintah yang terus digencet. Saat tragedi Permesta meledak (1958),
banyak tokoh-tokoh yang diciduk. Termasuk KH. Muhammad Isa Anshary yang
saat itu berada di Madiun bersama Prawotomangkusasmito, M. Roem, M.
Yunan Nasution dan EZ. Muttaqien serta beberapa tokoh lainnya.
Pada masa demokrasi parlementer, muncul beberapa konflik antar
kelompok. Ada yang menginginkan Indonesia berideologi sekuler-nasionalis
dengan dasar negara Pancasila. Di sisi lain ada yang menginginkan
terbentuknya negara Islam, atau paling tidak negara yang berideologikan
hukum-hukum Islam. Di tubuh Masyumi, cita-cita untuk membangun Negara
Islam sangat subur. KH. Muhammad Isa Anshary tetap menjadi juru bicara
yang ulet bagi Masyumi. Namun sayang, keinginan mereka untuk mewujudkan
Negara Islam gagal. Ketidakberhasilan ini disebabkan beberapa hal, di
antaranya munculnya polarisasi mengenai bentuk dan konsep negara Islam
itu sendiri.
Ada yang berpendapat bahwa aturan dan ajaran Islam harus terwujud
lebih dahulu yang nantinya dengan sendiri akan terbentuk negara Islam.
KH. Muhammad Isa Anshariy termasuk dalam kelompok ini. Di sisi lain ada
yang berpendapat bahwa negara Islam harus di bentuk dahulu, baru
kemudian diberi corak dan warna Islam. Di Luar itu, muncul kelompok yang
lebih keras lagi. Maka meledaklah peristiwa DII/TII di Jawa Barat,
Sulawesi Selatan dan Aceh serta gerakan Ibnu Hajar di Kalimantan.
Gerakan-gerakan itu dapat dipadamkan oleh Soekarno.
Pada era berikutnya, KH. Muhammad Isa Anshary terus berkecimpung
dalam membangun umat. Di usianya yang kian lanjut, ia lebih banyak
mengkader generasi muda. Ia tidak lagi menjadi pemimpin di organisasi
yang membesarkannya, tapi cukup sebagai penasehat. Begitulah contoh
seorang pemimpin yang mengetahui keadaannya. Kendati demikian ia tetap
saja mendapat halangan. Ia sempat dijebloskan ke dalam penjara oleh
Soekarno. Dari balik terali besi ia masih sempat mengirimkan
tulisan-tulisan ke para sahabatnya.
KH. Muhammad Isa Anshary tidak mengenal lelah. Menjelang akhir akhir
hayatnya ia tetap bekerja untuk umatnya. Pada 11 Desember 1969 atau
sehari setelah Hari Raya Idul Fitri 1369 H ia meninggal dunia, di RS
Muhammadiyah Bandung. Sehari sebelumnya ia menyatakan bersedia
memberikan khutbah Idul Fitri, namun takdir berkehendak lain. Naskah
khutbah itu sempat diketiknya dua halaman, dan tak sempat terbacakan….
Sumber :
KH. Isa Anshari (1916-1969) : “Sang Singa Podium”, Front Anti Komunis Indonesia, Faki Admin. http://antikomunis.freehostia.com
KH. Isa Anshari (1916-1969) : “Sang Singa Podium”, Front Anti Komunis Indonesia, Faki Admin. http://antikomunis.freehostia.com

0 Response to "TAHUKAH ANDA?? Inilah Sosok Kyai yang Pertama Kali Mendirikan Front Anti Komunis di Indonesia ! Bantu Sebarkan !!!"
Posting Komentar