ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Oleh: Rudi Wahyudi
Aura Museum Lubang Buaya memang aura kematian.
Suasana sepi, pengunjung sedikit, kanan-kiri pohon dan udara yang hening. Sudah
berapa kali ke sini tetap saja bulu kuduk merinding. Masuk ruang diorama pertama
terang, lalu semakin temaram, lorong semakin gelap, naik dan turun. Membuat
kita semakin menahan napas bila masuk ke situ hanya sendiri atau hanya ditemani
anak-istri yang juga ketakutan. Sampai saat ini Museum Lubang Buaya tempat
pembantaian para jendral itu masih masuk 7 tempat
terangker di Jakarta. Konon, warga sekitar sumur pembantaian lewat malam hari
masih suka mendengar suara-suara seperti pasukan baris-berbaris hiiii ...
Selesai dari diorama kita akan memasuki ruangan
sepi yang terpisah bertuliskan "bekas pakaian dan darah". Sepasang
kekasih ragu untuk masuk, ada aura takut. Ya, hanya kami dua pasang keluarga :
kecil dan besar. Istri dan anak-anak pun takut. Saya pun takut tapi memaksakan
diri, gengsi badan besar perut gendut kalau takut walau tetap saja bulu-bulu
berdiri he..he.. Sampai juga akhirnya di ruang yang menyimpan baju, kaos,
celana yang pernah dipakai mayat-mayat korban penyiksaan PKI. Suasana makin gak
enak, seperti masih terasa amis darahnya, di luar langit mulai gelap akan hujan.
Puncaknya, saatnya mengunjungi situs paling
horor, rumah pembantaian. Sepasang kekasih tadi masih bersama kami. Di rumah
pertama, dapur umum, istri tak berani masuk, anak-anak juga. Wanita yang
bersama pria tadi ngajak pasangannya masuk, tapi pasangannya bilang
"ngapain ke situ, di situ banyak bekas darah." Ya, sebagian tanahnya
memang masih tanah tempat Gerwani nyilet-nyilet wajah Jendral Soetoyo (cmiiw).
Kalimat legendarisnya "darah itu merah jendral !"
Karena semua takut, saya berusaha masuk, hening,
dingin, serasa mencekam. Satu per satu saya lihat, kamar-kamar yang lengang
dengan ranjang-ranjang tua begitu menakutkan. Ibam mengendap di belakang saya.
Sampai akhirnya saya masuk kamar yang amat sepi dengan ranjangnya yang sudah
reot mirip ranjang nenek saya. Saya sudah gak kuat menahan rasa takut yang
mencekat dari tadi. "Hwaaaaaaa ... !" saya lari berteriak.
"Waaaaaaaaaa ...!" Ibam yang di belakang saya ikut ngibrit kencang,
suara teriakannya melengking seperti suara keledai ketakutan. Teriakan Ibam
membuat Aisha, Darel, Umminya, dan sepasang kekasih yang baru mau masuk rumah
kaget dan ikut ngacir
Di luar rumah, kami cekikikan ingat kejadian
tadi. Mudah-mudahan gak ada yang ikut cekikikan di belakang, nah lho ?
JRENG JRENG !!!



0 Response to "MERINDING BACANYA !!! Kejadian Seram di Lubang Buaya yang Tidak Diketahui Banyak Orang..."
Posting Komentar