ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Kriteria calon istri idaman itu memang relatif bagi setiap pria maupun calon mertua. Ada pria yang pengennya punya istri yang pinter ngurus keuangan, tapi calon mertua pengennya istri yang jago mendidik anak. Ada juga pria yang pengen punya istri pengertian.
Namun kisah ini akan membukakan pikiran kita yang selama ini
ternyata salah tentang kewajiban seorang istri. Tahukah Anda jika
kewajiban memasak ternyata adalah tugas seorang suami? Beginilah kisah
dan penjelasannya:
Suatu hari di subuh yang dingin... ku dapati Ibu sudah sibuk memasak di dapur.
"Ibu masak apa? Bisa ku bantu?"
"Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan Bapak" sahutnya.
"Alhamdulillah.. mantab pasti.. Eh Bu.. calon istriku kayaknya dia tidak bisa masak loh..."
"Iya terus kenapa..?" Sahut Ibu.
"Ya tidak kenapa-kenapa sih Bu.. hanya cerita saja, biar Ibu tak kecewa, hehehe"
"Apa kamu pikir bahwa memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban Wanita?"
Aku menatap Ibu dengan tak paham.
Lalu beliau melanjutkan, "Ketahuilah Nak, itu semua adalah
kewajiban Lelaki. Kewajiban kamu nanti kalau sudah beristri." katanya
sambil menyentil hidungku.
"Lho, bukankah Ibu setiap hari melakukannya?"
Aku masih tak paham juga.
"Kewajiban Istri adalah taat dan mencari ridho Suami." kata Ibu.
"Karena Bapakmu mungkin tidak bisa mengurusi rumah, maka Ibu bantu
mengurusi semuanya. Bukan atas nama kewajiban, tetapi sebagai wujud
cinta dan juga wujud Istri yang mencari ridho Suaminya"
Saya makin bingung Bu.
"Baik, anandaku sayang. Ini ilmu buat kamu yang mau menikah."
Beliau berbalik menatap mataku.
"Menurutmu, pengertian nafkah itu seperti apa? Bukankah kewajiban
Lelaki untuk menafkahi Istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan?"
tanya Ibu.
"Iya tentu saja Bu.."
"Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah
kewajiban Suami. Makanan adalah nafkah. Maka kalau masih berupa beras,
itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak
adalah kewajiban Suami. Lalu menyiapkan rumah tinggal adalah kewajiban
Suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban Suami."
Mataku membelalak mendengar uraian Bundaku yang cerdas dan kebanggaanku ini.
"Waaaaah.. sampai segitunya bu..? Lalu jika itu semua kewajiban
Suami. Kenapa Ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut Bapak
sekalipun?"
"Karena Ibu juga seorang Istri yang mencari ridho dari Suaminya.
Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena Ibu
mencintai Ayahmu, mana mungkin Ibu tega menyuruh Ayahmu melakukan
semuanya. Jika Ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi. Tapi
jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk Ibu."
Aku hanya diam terpesona.
"Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada
Ayahandanya, Nabi, karena tangannya lebam menumbuk tepung? Tapi Nabi
tidak memberinya. Atau pernah dengar juga saat Umar bin Khatab diomeli
Istrinya? Umar diam saja karena beliau tahu betul bahwa wanita
kecintaannya sudah melakukan tugas macam-macam yang sebenarnya itu
bukanlah tugas si Istri."
"Iya Buu..."
Aku mulai paham, "Jadi Laki-Laki selama ini salah sangka ya Bu,
seharusnya setiap Lelaki berterimakasih pada Istrinya. Lebih sayang dan
lebih menghormati jerih payah Istri."
Ibuku tersenyum.
"Eh. Pertanyaanku lagi Bu, kenapa Ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban Ibu?"
"Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita, Nak. Istri menuntut
Suami, atau sebaliknya. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga
keharmonisan. Mau sama mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan
Persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk berusaha melakukan yang
terbaik satu sama lain. Yang Wanita sebaik mungkin membantu Suaminya.
Yang Lelaki sebaik mungkin membantu Istrinya. Toh impiannya rumah tangga
sampai Surga"
"MasyaAllah.... eeh kalo calon istriku tahu hal ini lalu dia jadi malas ngapa-ngapain, gimana Bu?"
"Wanita beragama yang baik tentu tahu bahwa ia harus mencari
keridhoan Suaminya. Sehingga tidak mungkin setega itu. Sedang Lelaki
beragama yang baik tentu juga tahu bahwa Istrinya telah banyak membantu.
Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya."
Sumber: cerminan.com
Sumber: cerminan.com

0 Response to "Calon Istriku Tidak Bisa Memasak, Tapi Tanggapan Ibu Malah Membuatku Terkejut!"
Posting Komentar